Cerita dari Dua Guru di Bali Island School untuk Peringatan Hari Guru Nasional

Pada tanggal 25 November 2021, Indonesia memperingati Hari Guru Nasional. Peringatan ini berbeda dengan Hari Guru Dunia yang jatuh pada tanggal 5 Oktober lalu.

Perayaan ini menjadi kesempatan masyarakat untuk memperingati ulang tahun PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) serta untuk menghargai perjuangan para guru seluruh Indonesia sebagai pendidik anak bangsa yang kreatif, inovatif, dan berdedikasi.

Mari simak perbincangan dengan dua guru dari Bali Island School mengenai profesi mereka, pandangan mereka mengenai Hari Guru, serta harapan mereka bagi guru-guru Indonesia!


Apa yang membuat Ibu/Bapak terpanggil menjadi guru?

Ibu Putu: Saya menjadi guru karena ingin berbagi, karena pengetahuan yang disimpan adalah sia-sa. Di bangku SMA saya sering belajar kelompok bersama teman-teman, membantu teman-teman yang kurang memahami materi dengan cara menjelaskan ulang dengan bahasa yang lebih sederhana. Melihat mereka mendengarkan dan mengerti, memberikan saya kepuasan tersendiri. Teman-teman saya sampai saat ini masih sering berkunjung ke rumah untuk pinjam catatan, mengerjakan tugas, atau berdiskusi.

Pak Putu: Semua bermula dari ketika saya masih duduk di bangku SMA, dimana rata-rata guru fokus ke murid yang menonjol dalam pelajaran, khususnya yang berhubungan dengan angka. Ada salah satu guru yang unik dari yang lainnya, beliau bernama Bu Jagra. Teknik beliau mentransfer ilmu ke siswa yang layaknya bercerita membuat saya mudah memahami pelajaran. Saya menyadari bahwa tidak semua anak bisa memahami pelajaran dengan cara yang sama. Semenjak itu saya ingin mengadopsi cara ibu Jagra mentransfer ilmu dan mengaplikasikannya ke situasi nyata di lapangan. Jadi menjadi guru adalah salah satu cara untuk mengajar anak-anak dengan karakter berbeda, dimana guru bisa belajar memberdayakan potensi yang ada pada setiap perbedaan itu.  

Hal apa atau momen apa yang membuat Ibu/Bapak merasa bangga menjadi guru?

Ibu Putu: Yang pertama, keberhasilan anak didik saya. Keberhasilan yang bukan hanya soal nilai tetapi juga dalam hal mengaplikasikan ilmu di kehidupan nyata, mampu membuat pilihan dan keputusan, sadar diri, dan percaya diri .

Yang kedua, saat kelulusan kelas 12, momen puncak dari semua proses belajar di bangku sekolah itu sendiri. Saat mereka berpidato, mengucapkan terima kasih khusus untuk saya, dan mengutip beberapa kesan yang mereka dapatkan dari kelas yang saya pimpin sangat mengharukan, karena saya tahu semua berasal dari lubuk hati mereka yang paling dalam.

Pak Putu: Hal yang membuat saya bangga menjadi guru adalah ketika bisa mengantarkan siswa dari yang awalnya tidak tahu menjadi tahu. Saya merasa berhasil telah dapat membagikan ilmu yang saya punya dan berguna bagi orang lain.

Di masa yang sulit dua tahun ke belakang, pelajaran terbesar apa yang Ibu/Bapak dapatkan soal belajar mengajar?

Ibu Putu: BIS sudah mengaplikasikan G Classroom dan Google suites jauh sebelum pandemic. Namun, karena pembelajaran BIS berbasis inkuiri mengharuskan anak didik untuk mampu memecahkan masalah, mereka sangat memerlukan interaksi aktif.

Saya belajar bahwa ternyata anak-anak bisa stres dan depresi karena harus menatap layar laptop terus menerus tanpa interaksi langsung dengan orang di sekitarnya. Istilahnya “cabin fever”. Guru juga bisa depresi karena merindukan melihat siswanya secara langsung, suara ‘berisik’ mereka, interaksi diskusi kelompok yang kadang off-topic, bahkan merindukan protes mereka karena kegiatan yang dilakukan di kelas. Di sinilah kepedulian dan rasa senasib sepenanggungan kemudian mendorong kami, guru dan murid, untuk saling menguatkan.

Pak Putu: Pelajaran terbesar bagi saya selama masa pandemi ini adalah kemampuan beradaptasi. Kita tidak bisa melakukan banyak hal yang biasanya kita lakukan di kelas saat situasi normal pada saat pembelajaran jarak jauh. Jadi situasi ini mengajarkan saya bagaimana untuk menjadi guru yang lebih kreatif.

Kenapa Ibu/Bapak memilih untuk mengajar di Bali Island School?

Ibu Putu: Menurut saya prinsip dan praktek pembelajaran yang diusung oleh sekolah dengan kurikulum IB merupakan yang terbaik. 

BIS adalah satu-satunya sekolah di Bali yang menjalankan kurikulum IB dari tingkat sekolah dasar hingga diploma (PYP, MYP, dan DP). Jadi, pembentukan learner profile sudah dimulai sejak usia 3 tahun. Begitu pula dengan proses inkuirinya yang diterapkan sejak kecil. 

Saya paling terkesan dengan program DP (Diploma Program) di BIS karena siswa secara mandiri memilih mata pelajaran yang mereka ingin pelajari guna mempersiapkan masa depan mereka. Akan kuliah di mana? mau bekerja sebagai apa?). Sistem kurikulum IB mengajarkan bukan hanya soal menghafal ilmu, tapi juga untuk mengerti konsep, penerapannya di dunia nyata, dan bagaimana mereka bisa berkontribusi terhadap masyarakat sekitar lewat CAS program. 

Pak Putu: Saya memilih untuk mengajar di Bali Island School karena sekolah dengan kurikulum IB seperti BIS ini memberi saya kesempatan untuk menemukan hobi dan tujuan yang menarik minat saya. 

Saya dapat bertemu banyak orang dengan latar belakang berbeda dan memiliki berbagai pengalaman untuk memperluas pengetahuan dan perspektif saya dan menjadi orang yang lebih baik.

Elemen apakah di dalam IB program yang sangat berpengaruh baik bagi masa depan anak didik?

Ibu Putu: IB Learner Profile merupakan salah satu elemen IB yang berpengaruh bagi masa depan anak. Segala variasi kegiatan yang dilakukan di kelas, di luar kelas, proyek, riset, pengabdian pada masyarakat, dan lain sebagainya, bertujuan membentuk karakter siswa yang siap terjun ke masyarakat di masa depan. Siswa diajarkan menjadi pemikir (thinker), berprinsip (principled), berpengetahuan (knowledgeable), berpikiran terbuka (open-minded), peduli (caring), punya rasa ingin tahu (inquirer), pengambil resiko (risk-taker), komunikator (communicator), seimbang (balanced), dan reflektif (reflective).

Pak Putu: Elemen yang baik di IB program bagi masa depan anak didik menurut saya adalah kurikulum IB akan lebih sering melakukan observasi dan praktik dalam kegiatannya sehari-hari dan juga mengerjakan tugas akhir. Saya rasa ini akan berdampak baik bagi siswa saat mereka terjun ke dunia nyata, mereka lebih terbiasa dengan apa yang akan mereka hadapi di dunia kerja atau di lingkungan masyarakat.

Apa harapan Ibu/Bapak bagi masa depan guru di Indonesia?

Ibu Putu: Saya berharap Bapak/ Ibu Guru di Indonesia tetap semangat untuk terus belajar, berpikiran terbuka dalam mengikuti perubahan dan perkembangan di dunia pendidikan. Selama guru mau belajar, maka siswa pun akan mengikutinya. Jangan takut mencoba sesuatu yang baru, perluaslah jaringan dengan rekan sesama guru untuk membangun komunitas pendidik yang saling berbagi.

Pak Putu: Harapan saya untuk guru Indonesia di masa depan sangat sederhana. Biarkan guru tetap menjadi guru. Belajar adalah kegiatan melibatkan guru dan siswa dalam mengolah dan mengelola potensi.